Perbedaan Humas dan Periklanan

Perbedaan-perbendaan antara Humas dan Periklanan
berikut ini adalah sejumlah perbedaan pokok antara humas dan periklanan

1. tulisan-tulisan humas (dan berbagai bentuk atau isi dari komunikasi kreatif humas lainnya seperti jurnal-jurnal internal dan kaset vido tentang organisasinya) harus sepenuhnya faktual dan informatif, tidal boleh melebih-lebihkan sepertinya yang bisa kita temukan dalam tulisan-tulisan iklan. untuk mencapai kredibilitas, kegitan0kegiatan humas haruslah bersifat edukatif, jauh dari nuansa emosional dan dramatik (seperti naskah iklan), dan menghindari kecenderungan memuji diri sendiri :D. oleh karena itu penulisan naskah humas memerlukan keterampilan yang berbeda dari yang dituntut oleh naskah iklan.

2. Humas juga dipakai oleh organisasi yang tidak terlibat dalam periklanan. sebagai cntoh, pasukan pemadam kebakaran tidak mengiklankan pemadam api, namun mereka senantias melakukan kegiatan-kegiatan humas agar seluruh masyarakat mengetahui keberadaan dan fungsinya.

3. Humas terutam berhubungan dengan para editor dan produser di media, sedangkan perklnan banyak berhubungan dengan media sebagai penjual ruang atau siaran iklan.


4. Iklan lazimnya ditujukan kepada segmen-segmen pasar serta lapisan sosial tertentu, sedangkan humas dialamatkan pada segenap golongan atau kelompok orang yang kepadanya suatu organisasi harus berkomunikasi. Mereka boleh jadi bukan pembeli barang atau jasa perusahaan tersebut, akan tetapi memiliki arti yang sangat penting bagi perusahaan atau organisasi yang bersangkutan; misalnya saja investor atau para pekerja.


5. Komponen-komponen pokok biaya pada pad humas berbeda dengan biaya iklan, biaya utama adalah untuk membayar sewa ruang, siaran dan produksi. pada humas biaya terbesar adalah waktu, karena humas sifatnya padat karya, ditambah menangani perizinan, sampai pada para pemasok layanan bisnis, komponen serta bahan-bahan mentah yang diperlukan perusahaan dalam menjalakan operasinya.

6. (Pasar Uang)Manajer bank lkal, para pemegang saham, para analisis investasi, investor, lembaga-lembaga keuangan serta bursa saham, semuanya merupakan elelmen pasar uang. Humas dapat ikut mencegah pengambil-alihan dengan memberi informasi lengkap kepada kalangan pasar uang, seingga harga saham terjaga terus, dan penguasaan perusahaan tetap berada ditangan pengelola sebelumnya.

7. Para Distributor semua orang yang berurusan dengan penyaluran produk atau jasa epada konsumen atau pengguna dapat digolongkan sebagai distributor. mereka itu bisa sebagai pedagang kulakan, pialang, pengecer, importir, atau eksportir.

8. Para Konsumen dan Pengguna para pembeli yang ada, baik akual atau potensial, merupakan bagian dari khalayak yang sangat penting, yang bisa saja mencakup sekian jenis kelompok (mis: anak-anak) yang tidak terjangkau oleh iklan

9. Pembentuk dan Pemimpin opini adalah orang-orang yang memiliki opini yang dapat membantu atau mengganggu keberadaan atau perilaku dari suatu organisasi (mis: dapat dilihat pada kasus Bibit dan Chandra yang dilibatkan oleh opini berbagai kalangan), tergantung sejauhmana pengetahuan mereka mengenai suatu oraganisasi(hal) yang bersangkutan. :D
Read More

11/15/09

Proses Produksi Tahu

Proses Produksi
Untuk memperoleh produk tahu yang memenuhi peersyaratan mutu, perlu dipeerhatikan faktor – fakor yang dapat mempengaruhi dan pengendalian mutu dalam proses produksi. Pengendalian mutu harus dilakukan mulai dari bahan baku, proses produksi, produk akhir hingga pengendalian mutu produk di pasaran.
Kegiatan proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan tahu “Bungkeng” dilakukan dengan beberapa tahap produksi, dimana proses produksi itu untuk memperoleh produk tahu yang memenuhi syarat mutu, yaitu langkah – langkahnya sebagai brikut :
1. Pencucian dan Perendaman
Kedelai dicuci berulang kali menggunakan air bersih hingga kotoran yang tersisa hilang. Kemudian direndam dalam bak perendaman menggunakan air brsih sampai bobotnya menjadi sekitar 2,2 x bobot kedelai asal (1 kg kedelai menjadi 2,2 kg kedelai basah). Lama perendaman berkisar antara 3 – 6 jam tergantung kepada jenis kedelai dan suhu air peredam.
2. Penggilingan
Alat penggiling kedelai menggunakan mesin penggiling khusus untuk industri tahu agardapat memperoleh mutu bubur yang halus, kental, dan ppputih. Selama proses penggilingan air ditambahkan secara kontinyu agar proses penggilingan lancer dan tidak tersendat – sendat. Hasil gilingan (bubur kedelai) dapat ditampung dalam ember – ember stainless steel atau wadah lainnya yang bersih dan baik (tidak berkarat atau retak).
3. Pemasakan
Bubur kedelai hasil penggilingan segera dimasukan kedalam wajan pemesakan berkapasitas tertentu (tidak terlampau besar), atau dapat dimasukan kedalam tangki pemasakan yang dilengkapi dengan pipa uap panas (steam) dan alat pengadukan. Pemasakan bubur dilakukan dengan penambahan air bersih berulang kali dan diaduk untuk mendapatkan hasil ekstaraksi protein yang banyak dan mencegah terjadinya penggosongan, atau meluapnya buih akibat naiknya suhu pemasakan. Pemasakan bubur kedelai dilakukan pada suhu 100°C selama 10 – 15 menit.
4. Ekstaraksi Susu Kedelai
Susu kedelai dipisahakan dari ampas dengan menggunakan alat penyaringan yang dikombinasikan dengan pengepresan. Alat tersebut dapat berupa “centrifugal fress” (mekanis) atau dapat menggunakan alat saringan press putar (manual).
Pengepresan yang baik dapat menghasilkan ampas tahu dengan dengan kadar 76 – 80% dan ampas tahu itu masih mengandung protein sekitar 23,6% dan lemak 8,1% dihitung atas dasar berat kering.
5. Penggumpalan
Penggunaan koagulan sioko (CaSO4 2H2O) harus dalam bentuk larutan jenuh yang diendapkan semalam (setiap 5 – 10 gram sioka dilarutkan dalam 400 – 800 ml air). Sedangkan persen penggunaannya adalah 0,27% dari berat susu kedelai pada suhu 70 - 75°C.
Sioko ditambahkan dengan cra mengaduk susu kedelai panas dengan kuat beberapa kali dan sioko ditambahkan sekaligus pada saat pengadukan tersebut, lalu dibiarkan penggumpalan terjadi selama kira – kira 20 menit tanpa diganggu.
Penggunaan asam cuka (asam asetat glasial) dilakukan dalam bentuk larutan yakni untuk setiap 1 ml asam cuka diencerkan dalam 50 – 100 ml air, sedanggkan persen untuk peggunaannya adalah 1,6% dari berat susu kedelai pada kondisi koagulasi 80 – 90°C. cara penambahan asam cuka pada proses penggumpalan (koagulasi) berbeda dengan cara penambahan sioko. Cuka ditambahkan kedalam susu kedelai panas secara bertahap paling sedikit 3 kali penambahan dan dilakukan pengadukan secara perlahan – lahan agar susu kedelai yang telah terkoagulasi tidak pecah dan menggumpal. Disamping itu memberikan kesempatan pada susu kedelai yang belum terkoagulasi mengapung ke permukaan untuk ditambah lagi dengan asam cuka.
6. Pemisahan Whey
Whey dipisahkan dari gumpalan tahu dengan menngunakan nyiru/tanggok dan sambil menngunakan gayung/ember kecil. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses percetakan tahu dan konsistensi tahu yang diperoleh akan lebih baik.
7. Pencetakan dan Pengepresan
Tahu dicetak dalam cetakan yang terbuat dari kayu atau plat logam anti karat dan dilengkapi dengan kain penyaring, kemudian diberi penekanan ringan 9 2-4 gram/cm²) selama ± 5 menit. Selanjutnya penekanan diperbesar menjadi ± 15 gram/cm² selama ± < 15 menit atau hingga whey yang menetes habis. Untuk memperoleh tahu yang lebih padat penekanan harus diperbesar lagi sesuai dengan keopadatan tahu yang diinginkan. Sesudah percetakan tahu dapat dipotong – potong menurut ukuran yang diinginkan. Pengepresan tahu dapat juga dilakukan dengan alat “hand press”.
8. Pengemasan
Sebelum dikemas tahu direbus dalam air mendidih (100°C) selama ± 10 menit untuk jenis tahu berwarna, kedalam air rebusan dapat ditambahkan bahan pewarna alami (kunyit) atau bahan pewarna lain (food colour).
Tahu yang telah direbus ditiriskan sebentar untuk memisahkan air yang terkandung. Kemudian tahu dimasukan kedalam bahan pengemas yang sudah diperiksa kebersihan dan kebocorannya. Pengemasan hendaknya dilakukan sebaik mungkin dan tidak bocor

:D

sekian.
Read more

11/14/09

Thanks To Mr. Sukab a.k.a Seno :D
Read more

HUMOR MARKETING - SLOGAN BULAN MADU

HUMOR MARKETING - SLOGAN BULAN MADU
Share
Friday, February 20, 2009 at 12:15pm | Edit Note | Delete
Alkisah ada tiga orang perempuan bersaudara sebut saja mereka, Vira, Voni, dan Veni mereka bertiga akan dinikahkan secara massal oleh orangtua mereka. Setelah menikah ketiganya langsung pergi berbulan madu. Vira pergi ke Danau Toba, Voni pergi ke Kepulauan Seribu, dan Veni si bungsu pergi ke Bali.

Namanya juga sayang anak, kedua orangtua mereka minta dikabari tentang segala hal yang terjadi selama honeymoon. Supaya praktis dan murah, berita dikirim melalui SMS. Tapi, agar pesan yang dikirim singkat dan tidak terlalu vulgar, mereka disarankan memakai kode berupa slogan dalam iklan.

Tiga hari setelah kepergian anak-anak mereka berbulan madu, diterimalah SMS dari Vira di Danau Toba. Isinya cukup singkat: “Standard Charatered”. Setelah membaca SMS tersebut, mereka mencari iklan Standard Charatered di Koran dan tampaklah iklan berbunyi “besar, kuat, dan bersahabat”. Tersenyumlah kedua orangtua itu.

Hari ke-4 datang SMS kedua… rupanya dari Voni di Kepulauan Seribu. Pesannya sangat pendek:”Susu Bendera Cokelat”. Dengan tergesa-gesa kedua orangtua itu mencari majalah yang memuat slogan Susu Bendera Cokelat. Ternyata iklan itu bertuliskan kalimat,”NIkmatnya sampai tetes terakhir”. Keduanya pun tersenyum bahagia sambil tertawa kecil.

Hari ke-5 tidak ada SMS yang datang. Esoknya juga ditunggu-tunggu tidak ada berita. Hari ke-7begitu pula, tidak ada kabar dari si bungsu Veni yang berbulan madu di Bali.

Memasuki hari ke-8, akhirnya kedua orangtua itu menerima SMS dari Veni. Isinya singkat:”Cathay Pacific”. Penasaran, mereka segera mencari iklan penerbangan Cathay Pacific yang ada di Koran, dan dijumpailah iklan dengan tulisan besar: “ 7X SEMINGGU, 3X SEHARI, 5 JAM NONSTOP “.

majalah Marketing
Read more

TAKSI BLUES Ditulis pada 11 Mei, 2007 oleh sukab


Malam berhujan. Kudengar lagu blues.

By a route obscure and lonely,
Haunted by ill angels only, *)

”Kusaksikan pemandangan,” terdengar radio taksi itu. Kusambar mikrofon.

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Menteng.”

”Ada tamu lapor bukunya ketinggalan.”

”Seperti apa tamunya?”

”Cewek cakep begitu.”

”Cakep?”

”Cakep sekali begitu.”

”Bukunya kayak apa?”

”Judulnya susah, tapi begini ejaannya: November-India-Echo-Tango-Zero-Siera-Charlie-Hotel-Echo.”

Kubuka laci mobil. Kubaca judulnya. Busyet. Pernah kudengar sebuah kalimat di dalamnya: Tuhan sudah mati.

”Bukunya ada.”

”Serahkan ke pool. Supaya bisa diambil besok pagi.”

”Copy.”

Hujan menggerojok, membuat jalanan sepintas lalu seperti sungai. Kulirik penumpangku dari kaca spion. Ia masih tidur. Kepalanya tersandar ke jendela.
Kubangunkan dia.

”Mbak, Mbak, bangun, Mbak.”

Wanita itu menggeliat, mengucek-ucek mata.

”Sudah sampai di mana nih?”

”Lho, dari tadi kita putar-putar terus. Memangnya mau turun di mana?”
Memang dari tadi aku tidak tahu dia mau turun di mana. Begitu masuk sudah marah-marah terus. Gelisah sekali menelepon ke sana kemarin lewat hand phone. Setelah itu sibuk mencari cincin kawinnya yang hilang entah di mana. Sampai-sampai aku harus berhenti. Menyalakan lampu, mengambil senter untuk melihat kolong, tapi cincin itu tetap tidak ketemu. Lantas dia menangis.

”Tujuan kita ke mana, Mbak?”

”Tanya-tanya lagi! Bukannya tahu orang baru nangis!”

”Soalnya saya kasihan Mbak, nanti bayarnya mahal.”

”Sok tau banget sih Abang ni? Jalan saja terus, pasang argonya, yang penting saya bayar, ‘kan?”

Lama sekali dia memandang keluaar jendela. Air matanya meleleh di pipi. Sudah berapa kali ada penumpang menangis di taksiku? Wanita memang suka menangis sambil memandang keluar jendela. Apakah mereka mencari dirinya sendiri di luar jendela?

”Bang,” katanya tiba-tiba. ”Abang sudah kawin?”

”Sudah.”

”Berapa lama?”

”Belum lama. Baru dua tahun.”

”Sudah punya anak?”

”Belum.”

”Ka-be?”

”Yah, ka-be. Istri saya masih ingin kerja, dan kami memang belum punya duit.”

”Abang nggak apa-apa?”

”Ya nggak apa-apa. Emang kenapa?”

”Saya kawin juga baru dua tahun. Belum punya anak. Tapi suami saya udah ribut terus.”

”Kenapa?”

”Katanya malu kalau nggak punya anak. Dikira mandul.”

”Kalau mandul bener kenapa?”

”Dia malu.”

”Bodoh sekali dia.”

Aku melirik, wanita itu sedang memandang dirinya sendiri lewat cermin kecil, lantas berias. Ia menggerutu.

”Memang. Dasar laki-laki bodoh.”

”Waktu kawin, belum tahu dia bodoh?”

”Huuuuhhh. Pasti saya yang bodoh mau kawin sama dia. Pasti saya yang bodoh. Sudah tahu dia bego, masih mau juga. Pasti saya dong yang bego. Iya, ‘kan?”

”Tapi, cinta?”

Kulirik lagi. Sambil menatap jendela, wanita itu tersenyum pahit.

”Cinta. Cinta. Apa itu cinta?”

Lantas percakapan terhenti, dan ia tertidur. Aku yang tak tahu mau ke mana, berputar-putar seenak perutku.

”Sudah, turun sini saja,” katanya sekarang.

Kulihat neon sign bar-bar di Jalan B. Rok mininya terangkat ketika melangkah keluar. Ia menghabiskan Rp 50.000 untuk tidur di dalam taksi. Kulihat ia melangkah menerobos hujan, lenyap di balik pintu sebuah bar. Masih tersisa harum parfumnya. Hmmm.

Misteri. Misteri. Para penumpang adalah misteri. Aku tak pernah berhasil mengenal siapa mereka. Mereka hanyalah orang-orang yang kita temui sepintas di jalanan. Hanya sepintas, untuk kemudian menghilang kembali. Yeah. Aku hanya sopir taksi yang selalu keluar pada malam hari. Bertemu begitu banyak orang dalam semalam, tapi pada hakikatnya selalu sendiri. Kota ini juga sebuah misteri. Begitu banyak manusia kita temui di jalanan setiap hari, namun betapa sulitnya mengenal satu saja dari mereka. Betapa sulit memahami manusia meskipun mereka semua ada di sekeliling kita. Ah, untuk apa aku memikirkan semua ini? Aku cuma seorang sopir taksi. Selalu keluar malam karena tak suka macet dan kepanasan. Selalu mengembara dalam kekelaman.

***

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Masih sekitar Menteng.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Ambil-ambil.”

”Jalan Gereja Theresia 47. Bapak Hamsad.”

”Meluncur.”

Hujan sudah berhenti, tapi uap air masih membiaskan cahaya kekuningan lampu merkuri. Aku segera tiba di tempat pemesan. Tiga pria bertampang serem berjalan mendekat sambil tertawa-tawa. Mereka masuk.

”Bapak Hamsad?”

Pria Serem 1 yang duduk di sebelahku menjawab.

”Mau Hamsad kek, mau bangsat kek, apa urusan lu? Jalan!”

”Lho, ini ordernya untuk Bapak Hamsad.”

”Sialan lu! Gua yang panggil taksi tau? Gua namanya Hamsad, gua namanya belegug, apa peduli lu? Pokoknya gua bayar! Udah, jalan!”

Ngefreto! Tombol argo kupencet. Yeah. Apalah artinya sebuah nama. Aku toh tak pernah hafal nama-nama penumpang.

”Kemana kita, Pak?”

Sambil menjawab, Pria Serem 1 melirik kedua temannya.

”Bukunya gua udah bilang tadi?”

”Sungguh mati, belum, Pak.”

Pria Serem 1 berkata kepada kedua temannya.

”He, kalian denger nggak tadi gua udah bilang ke mana?”

”Denger, Bang. Dia aja yang budeg,” kata Pria Serem 2 di belakangnya.
Pria Serem 3 di belakangku menambahi pula.

”Emang, Budeg.”

Mampus!

”Iyalah, barangkali saya budeg. Tapi, ke mana tujuan kita, Bang?”

”Eh, elu udah budeg masih ngelunjak! Kalau gua kagak salah denger, elu tadi manggil Pak, ‘kan. Bukan Bang?” Pria Serem I menukas lagi.

”Iya Bang, eh Pak.”

”He, denger, jadi orang itu jangan plin-plan kayak para pejabat. Kalau sudah Pak ya Pak, nggak usah sok akrab! Ngerti?”

”Iya, sok akrab~!” Pria Setem 2 menimpali.

”Ngerti nggak?” Pria Serem 3 tak mau ketinggalan.

”Ngerti, ngerti Bank, eh Pak.”

”Awas! Sekali lagi keliru gua pelintir lu punya kepala.”
Busyet.

”Sembilan-sembilan,” radio taksi berbunyi lagi.

”Sembilan-sembilan.”

”Jalan Gereja Theresia?”

”Sudah bersama.”

”Selamat jalan dan kepada tamunya selamat malam.”

”Copy”

Kukebut taksiku, tapi ke mana tujuan mereka?

”Jadi ke mana kita, Pak?”

”Sialan lu! Dari tadi nanya melulu!”

”Emang! Berisik lu!”

”Dasar budeg!”

Bener-bener sialan mereka ini.

”Lu ngerti Sawangan nggak?”

”Sawangan? Tahu Bang, eh Pak.”

”Nah, kita ke sono.”

”Jauh amat, Pak?” Aku mencoba ramah.

Pria-pria Serem itu saling berpandangan. Tiba-tiba Pria Serem 3 bergerak, menempelkan pisau di leherku.

”Eh, elu cerewet amat sih? Denger, bawa kita ke Sawangan. Titik. Nggak usah nanya-nanya, gua iris kuping lu entar! Ngerti?”

”Mengerti, Pak.”

Minta ampun dah! Orang-orang ini bener-bener sialan. Mudah-mudahan mereka bayar. Kutancap taksiku. Sepanjang jalan mereka berdiam diri. Sampai Pria Serem 3 memecah kesunyian.

”Jadi bagaimana urusan kita itu, Bang?”

”Yang sekarang ini?” Pria Serem 1 balik bertanya.

”Yang mana lagi, Bang?” Pria Serem 2 menegaskan.

Pria Serem 1 menoleh ke belakang. Aku tahu ia memberi tanda dengan matanya bahwa di situ ada aku.

”Gua udah tahu jawabnya, tapi gua nggak bisa bilang sekarang.”

”Kenapa begitu?”

Aku merasa Pria Serem 3 menatapku dari belakang.

”Omongin sekarang aja, Bang. Dia nggak ngerti apa-apa ini. Kalau ngerti pun rasanya nggak akan dia berani ikut campur. Ya nggak, Bung?”
Aku pura-pura tidak mendengar. Eh, Pria Serem 3 menyodok kursiku dengan kakinya.

”Lu denger, ‘kan? Lu nggak akan ikut campur?”

”Ya, ya, ya.”

Bener-bener bujubusyet. Siapa orang-orang ini? Tampang mereka seperti orang-orang kriminal. Tapi hak mereka sama dengan semua penumpang yang masuk taksiku. Aku tidak perlu tahu urusan mereka. Barangkali juga tidak berhak tahu. Meskipun banyak juga yang aku tahu sebagai sopir taksi. Pemandangan kota mengalir di kaca depanku.

”Waktu itu Abang bilang kita cuma menuruti perintah atasan.”

”Memang perintah atasan yang kita turuti waktu itu.”

”Tapi, kenapa jadi kita yang salah? Kenapa kita yang dipecat? Bukan atasan kita?”

”Memang kenyataannya begitu, Din, kita diperintahkan menculik Joni. Kita diperintahkan menghabisi Joni. Kita diperintahkan membuangnya di tepi jalan.”

”Jadi, kita tidak salah, ‘kan?” Pria Serem 2 bertanya.

”Tapi kita yang dipecat. Jadi kambing hitam. Jadi tumbal.” Pria Serem 3 menegaskan.

”Menurut peraturan, memang tidak semua perintah atasan boleh kita turuti.”

”Namanya juga komando, Bang.”

”Ya. Komando. Perintah atasan.”

”Kita harus memakai otak kita. Menculik orang yang belum jelas kesalahannya. Membunuhnya tanpa pengadilan. Menghajarnya dulu sebelum menembaknya. Mau dibolak-balik, itu tetap suatu kesalahan.”

”Itu perintah atasan toh, Bang?”

”Yak!”

”Atasan kita ikut salah dong!”

”Yak!”

”Tapi dia sampai sekarang tidak diapa-apakan. Enak-enakan di rumahnya yang mewah.”

”Dengan tujuh mobil.”

”Dengan istri muda.”

”Yah. Dengan istri muda. Bangsat!”

”Yah. Orang-orang di atas itu memang bangsat!”

Aku tertegun, melirik dari kaca spion. Tapi bertumbukan dengan mata Pria Serem 3.

”Ngapain lu lirik-lirik!”

”Lihat belakang, Bang, eh Pak.”

”Diem aje lu! Bulegug!”

Aduh Mak!

”Jadi sekarang kita mau melakukan pembalasan, Bang?”

”Yak!”

”Jadi kita akan menghukumnya sendiri, Bang? Tanpa pengadilan, sama seperti dia lakukan kepada orang-orang yang kita culik, Bang?”

”Yak!”

Tanpa sengaja aku menengok dari kaca spion lagi. Eh, bertemu pandang lagi dengan Pria Serem 3. Mendadak dia memitingku, ada pisau di tangannya.

”Sialan! Gua udah bilang jangan lirik-lirik, ‘kan?”

”Maaf Bang, eh Pak, nggak sengaja.”

”Gua iris kuping lu mau?”

”Jangan, Pak, kuping cuma satu.”

”Salah. Kuping lu dua. Jadi boleh kan gua ambil satu?”
Nafasku sesak. Untung Pria Serem 1 melepas pitingan itu.

”Heh, sudah, dia lagi nyetir tuh! Nanti kita semua yang mampus.”

Busyet. Repot juga jadi sopir taksi.

”Terimakasih, Pak.”

”Nggak usah pake terimakasih lu, brengsek.”

Busyet.

”Apakah kali ini kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Yah, apakah kita tidak akan membuat kesalahan lagi, Bang?”

”Kita sudah tidak punya apa-apa lagi sekarang. Sedangkan bangsat itu mempunyai segalanya. Tujuh mobil, tujuh rumah, dan tujuh pacar.”

”Dan satu istri muda.”

”Dan satu istri muda.”

Pria Serem 1 menudingkan jari seperti menembakkan pistol, dan menirukan bunyi tembakan.

”Tiegghhh!”
***

Aku disuruh berhenti di sebuah tempat yang sepi. Mereka keluar semua dari mobil. Pria Serem 1 mengambil segepok uang dari balik jaketnya, melemparkannya ke dalam, dan jatuh di pangkuanku. Kupegang uang itu.

”Ini kebanyakan, Pak.”

Pria Serem 1 membungkuk, menyandarkan tangan kanannya ke jendela, menunjuk dengan tangan kirinya.

”Lu liat rumah besar itu, ‘kan?”

Kulihat rumah yang nampak terang lampunya.

”Besok atau lusa lu buka koran, akan tahu yang punya rumah itu mampus. Lu tutup mulut. Ngerti?”

”Iya, Pak.”

”Sudah, pergi sana! Sok!’

Ketika kuputar taksiku, kulihat mereka bertiga memandangi rumah mewah itu, sebelum akhirnya melangkah ke sana.
Malam begitu sepi, begitu kelam. Aku tidak terlalu salah. Kota ini isinya orang-orang misterius. Siapakah yang betul-betul bisa kita kenal di kota ini? Apakah yang betul-betul bisa kita pahami di sini? Malam hanyalah bayang-bayang. Tapi aku suka bayang-bayang. Aku suka masuk ke balik kelam.
Radio taksi berbunyi.

”Sembilan-sembilan.”

”Sembilan-sembilan.”

”Posisi di mana?”

”Di bawah rembulan.”

Kudengar lagu blues — aku masih sendirian menembus malam.

Jakarta - Yogya, Lebaran 1998
Read more
 

takkan terganti Design by Insight © 2009